Samarinda, Kalimantan Timur – Proses pencarian dua korban longsor Samarinda yang masih hilang kembali dilanjutkan hari ini, setelah sebelumnya sempat terkendala cuaca ekstrem. Longsor yang terjadi di kawasan Perumahan Griya Mukti Sejahtera, Kelurahan Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, ini terjadi pada Minggu (11/5/2025) sore dan menyebabkan empat orang tertimbun. Dua di antaranya telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara dua lainnya masih dinyatakan hilang.
Tim gabungan dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), BPBD, TNI, Polri, serta relawan setempat kembali dikerahkan sejak Selasa (13/5/2025) pagi. Namun, pencarian sempat dihentikan sementara karena curah hujan yang tinggi dan kondisi tanah yang labil, sehingga membahayakan keselamatan tim di lapangan.
Proses Pencarian Terkendala Faktor Cuaca
Kepala Kantor Basarnas Balikpapan, Melkianus Kotta, mengatakan bahwa keselamatan tim menjadi prioritas utama dalam proses evakuasi. “Curah hujan yang tinggi sejak Senin sore membuat lokasi longsor semakin berisiko. Tanahnya labil dan bisa kembali longsor sewaktu-waktu. Kami harus menghentikan sementara pencarian hingga kondisi aman,” ujarnya.
Kondisi ini juga menyulitkan penggunaan alat berat. Lumpur yang dalam serta medan yang curam membuat akses ke titik longsor tidak bisa dijangkau dengan mudah. Oleh karena itu, tim lebih mengandalkan pencarian manual menggunakan sekop dan cangkul untuk meminimalkan risiko.
Pemetaan Titik Diduga Lokasi Korban
Tim pencari telah melakukan pemetaan dan pendeteksian terhadap beberapa titik yang diduga sebagai lokasi tertimbunnya korban. Dengan bantuan anjing pelacak dan alat pendeteksi life detector, area pencarian difokuskan di sekitar dapur rumah korban yang hancur tertimbun longsoran tanah.
“Kami menduga kedua korban berada di dapur dan kamar bagian belakang saat longsor terjadi. Fokus pencarian kami arahkan ke titik tersebut,” kata Komandan Tim Operasi, Letda Inf. Yuda Pratama.
Identitas dua korban yang masih hilang telah diketahui, yakni ibu dan anak yang sebelumnya tinggal di rumah yang tertimbun material longsoran. Kedua korban terakhir terlihat oleh warga sekitar sesaat sebelum tanah longsor menghantam permukiman mereka.
Warga dan Relawan Terus Beri Dukungan
Meskipun situasi di lokasi bencana cukup sulit, dukungan warga dan relawan terus mengalir. Sejumlah organisasi kemanusiaan dan masyarakat sekitar bergotong royong menyediakan logistik, makanan, serta bantuan moril kepada keluarga korban longsor Samarinda yang masih menunggu kabar anggota keluarganya.
Salah satu relawan dari PMI Samarinda, Rina Wulandari, menyebutkan bahwa pihaknya juga menyediakan layanan trauma healing bagi anak-anak dan keluarga korban. “Kami hadir untuk membantu tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis. Musibah ini menyisakan luka yang dalam bagi warga,” ujarnya.
Evaluasi dan Peringatan Dini
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pemukiman di daerah rawan longsor. Kepala BPBD Samarinda, Hendra Wahyudi, mengungkapkan bahwa kawasan Loa Bakung memang masuk dalam zona merah bencana tanah longsor, terlebih saat musim hujan seperti sekarang.
“Kami telah mengeluarkan peringatan sejak awal tahun bahwa kawasan ini berisiko tinggi. Namun, masih banyak warga yang bertahan di sana. Perlu ada upaya bersama untuk relokasi dan edukasi masyarakat ke depan,” ujarnya.
Pemerintah Siapkan Bantuan dan Penanganan Lanjutan
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, mengunjungi lokasi bencana dan menyatakan bahwa pemerintah kota akan menanggung biaya pemakaman korban serta memberikan santunan kepada keluarga yang terdampak. Ia juga menyebutkan akan mempercepat program mitigasi bencana dengan memperkuat sistem drainase dan meninjau ulang izin pembangunan di daerah rawan longsor.
“Kejadian ini menjadi pengingat bahwa pembangunan harus memperhatikan aspek lingkungan dan risiko bencana. Kami akan mengevaluasi kebijakan tata ruang dan memperketat pengawasan,” tegas Andi.
Harapan di Tengah Duka
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian dua korban longsor Samarinda masih berlangsung. Tim SAR terus bekerja keras dengan harapan bisa segera menemukan korban yang masih tertimbun. Sementara itu, keluarga dan warga sekitar hanya bisa menunggu dalam doa dan harapan.
Musibah ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, terutama di wilayah yang rawan longsor. Pihak berwenang mengimbau warga untuk tetap waspada dan segera melapor jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah di lingkungan sekitar.





