BBM Diduga Oplosan di Samarinda, Warga: “Saya Isi Pertalite, Tapi…”
Samarinda, Kalimantan Timur – Sejumlah warga di Samarinda mengeluhkan kualitas Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite yang mereka beli di beberapa SPBU dalam beberapa hari terakhir. Mereka menduga kuat bahwa BBM yang dibeli bukanlah Pertalite murni, melainkan campuran atau oplosan yang memengaruhi performa kendaraan mereka.
Keluhan ini mencuat setelah banyak pemilik kendaraan bermotor, khususnya roda dua, mengalami gangguan pada mesin seperti brebet, tenaga berkurang, hingga mogok mendadak setelah mengisi BBM dari SPBU tertentu.
“Saya isi Pertalite di SPBU daerah Sempaja, biasanya motor saya mulus saja, tapi ini baru jalan beberapa kilometer langsung brebet. Rasanya kayak isi bensin oplosan,” kata Andi, seorang pengendara motor yang sehari-hari bekerja sebagai ojek online, kepada wartawan pada Rabu (9/4).
Andi bukan satu-satunya. Di media sosial, berbagai keluhan serupa bermunculan. Beberapa netizen membagikan video dan foto kondisi BBM yang tampak tidak normal, seperti berwarna lebih keruh dan berbau menyengat. Ada pula yang menunjukkan endapan pada tangki kendaraan setelah menggunakan BBM tersebut.
“Saya curiga ini bukan Pertalite asli. Warnanya lebih pucat, dan setelah saya kuras tangki, ada semacam cairan mirip air di dasar. Ini merugikan kami sebagai konsumen,” tulis akun Instagram @farhan_motorcare dalam unggahannya yang kini sudah dibagikan lebih dari seribu kali.
Dugaan BBM Dicampur Cairan Lain
Beberapa bengkel di Samarinda mengonfirmasi bahwa dalam beberapa hari terakhir mereka menerima lebih banyak kendaraan yang mengalami masalah serupa. Menurut salah satu montir senior di kawasan Jalan Juanda, ada kemungkinan BBM telah tercampur zat lain seperti air atau bahan pelarut tertentu.
“Biasanya kalau bensin tercampur air, pembakaran jadi tidak sempurna. Gejalanya motor brebet, bahkan bisa merusak sistem injeksi kalau dibiarkan. Ini bukan masalah sepele,” ujar Sarman, montir bengkel yang sudah 20 tahun menangani kendaraan bermotor.
Kecurigaan ini pun mendorong sejumlah warga untuk meminta pertanggungjawaban dari pihak SPBU dan juga mengadukan kejadian ini ke Pertamina sebagai pihak yang bertanggung jawab atas distribusi BBM bersubsidi.
Pihak Pertamina Angkat Bicara
Menanggapi keluhan yang semakin ramai, PT Pertamina (Persero) melalui perwakilan wilayah Kalimantan Timur menyatakan bahwa mereka akan segera melakukan investigasi terhadap SPBU yang dilaporkan.
“Kami sangat serius menanggapi keluhan ini. Tim kami sudah turun ke lapangan untuk mengambil sampel BBM di SPBU yang dimaksud. Kami juga akan memeriksa sistem distribusi dan tangki penyimpanan untuk memastikan tidak ada kecurangan atau pencampuran,” kata Fajar Rizki, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, saat dihubungi Kamis (10/4).
Fajar juga menambahkan bahwa jika terbukti terjadi praktik oplosan, maka Pertamina tidak akan segan-segan memberikan sanksi tegas kepada pihak SPBU, termasuk pencabutan izin operasional.
Pakar Energi: “Perlu Audit Menyeluruh”
Pakar energi dan migas dari Universitas Mulawarman, Dr. Eko Santosa, menilai kejadian ini tidak bisa dianggap remeh. Menurutnya, dugaan adanya oplosan BBM di SPBU bisa mengindikasikan celah pengawasan dalam rantai distribusi energi nasional.
“Kalau ini benar terjadi, maka bukan hanya soal kerugian konsumen, tapi juga menyangkut integritas sistem distribusi energi. Harus ada audit menyeluruh, dari depo hingga SPBU,” ujarnya.
Dr. Eko juga menyarankan agar Pertamina menggandeng pihak independen dalam investigasi agar hasilnya lebih transparan dan dapat dipercaya publik.
Warga Minta Kompensasi
Seiring dengan penyelidikan yang tengah berjalan, banyak warga menuntut kompensasi atas kerusakan kendaraan mereka. Beberapa bahkan telah mengeluarkan biaya perbaikan hingga jutaan rupiah akibat dampak dari dugaan BBM oplosan tersebut.
“Saya sudah keluar lebih dari Rp800 ribu untuk bersihin injektor dan ganti filter. Kalau ini karena kelalaian SPBU, saya minta ganti rugi,” ujar Rina, ibu rumah tangga yang sehari-hari menggunakan mobil pribadi untuk mengantar anak ke sekolah.
Meski demikian, pihak Pertamina masih meminta masyarakat untuk bersabar hingga hasil investigasi resmi keluar. Mereka juga membuka posko pengaduan di beberapa titik dan menyarankan warga menyimpan bukti pembelian serta dokumentasi terkait.
Harapan Akan Transparansi
Kejadian ini menyoroti pentingnya pengawasan ketat terhadap distribusi BBM bersubsidi, terutama Pertalite yang masih menjadi pilihan utama masyarakat kelas menengah ke bawah.
Masyarakat berharap agar kasus ini segera ditangani secara transparan dan tidak ada lagi kejadian serupa di masa mendatang. “Kami cuma ingin BBM yang kami beli sesuai standar. Jangan sampai kami rugi dua kali, sudah mahal, rusak pula kendaraan,” tutup Andi.











