Jakarta, 29 April 2025 — Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2025 diwarnai insiden mengejutkan setelah seorang peserta kedapatan melakukan kecurangan dengan menempelkan ponsel pintar (HP) di dadanya menggunakan perekat khusus. Aksi ini menjadi viral di media sosial setelah video penggerebekan dari panitia ujian tersebar luas, memicu diskusi publik tentang tekanan masuk perguruan tinggi negeri, terutama Fakultas Kedokteran yang dikenal sangat kompetitif.
Menurut keterangan resmi dari Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), peserta tersebut diketahui menggunakan teknologi tersembunyi untuk berkomunikasi dengan pihak ketiga di luar ruangan ujian. HP yang ditempel di dada terhubung dengan perangkat earphone mini melalui Bluetooth, memungkinkan peserta menerima jawaban selama ujian berlangsung.
“Petugas kami mencurigai gerak-gerik peserta sejak awal. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan HP kecil yang disamarkan dan direkatkan di dalam baju, tepat di bagian dada,” ujar seorang pengawas ujian dari salah satu pusat UTBK di Jakarta.
Tekanan Masuk Kedokteran Jadi Motif Utama
Setelah dilakukan investigasi awal, terungkap bahwa peserta tersebut nekat melakukan kecurangan karena sangat ingin lolos ke Fakultas Kedokteran di salah satu universitas negeri favorit. “Saya hanya ingin membahagiakan orang tua. Mereka berharap saya jadi dokter,” ungkap peserta berinisial AHP (17) saat dimintai keterangan oleh pihak penyelenggara.
Keterangan AHP memperlihatkan tekanan besar yang dialami sebagian pelajar untuk masuk jurusan-jurusan prestisius seperti Kedokteran. Dalam beberapa tahun terakhir, rasio keketatan masuk Kedokteran terus meningkat. Di beberapa PTN, hanya 1 dari 30 pendaftar yang diterima, menjadikan jurusan ini salah satu yang paling kompetitif di Indonesia.
Teknologi Canggih Digunakan untuk Curang
AHP tidak sendiri. Kasus serupa pernah terjadi pada UTBK tahun-tahun sebelumnya. Beberapa peserta menggunakan alat bantu canggih seperti kamera tersembunyi, earphone tak kasat mata, hingga perangkat pemancar mini. Modus kecurangan terus berkembang seiring kemajuan teknologi.
“Ini menjadi tantangan besar bagi panitia. Setiap tahun kami tingkatkan pengamanan, termasuk pemindaian metal detector, pemeriksaan manual, dan pengawasan melalui CCTV,” jelas perwakilan LTMPT.
Untuk mencegah kasus serupa, LTMPT kini mempertimbangkan penggunaan teknologi pendeteksi sinyal dan peningkatan sistem keamanan digital. “Kami juga mendorong pelatihan khusus bagi pengawas untuk mengenali gerak-gerik mencurigakan,” lanjutnya.
Konsekuensi Hukum dan Sanksi Akademik
Peserta yang terbukti melakukan kecurangan secara otomatis didiskualifikasi dari seluruh proses seleksi masuk perguruan tinggi. Selain itu, LTMPT juga berkoordinasi dengan pihak sekolah dan, dalam kasus berat, pihak berwenang untuk mempertimbangkan sanksi hukum sesuai Undang-Undang ITE dan peraturan pendidikan nasional.
“Perbuatan ini tidak hanya mencederai integritas sistem pendidikan, tetapi juga memberi contoh buruk bagi generasi muda,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.
Psikolog: Tekanan Akademik Bisa Picu Tindakan Ekstrem
Psikolog pendidikan, Dr. Intan Sari, mengungkapkan bahwa kecurangan dalam ujian kerap terjadi akibat tekanan tinggi dari lingkungan sekitar, baik dari keluarga maupun ekspektasi sosial. “Ketika anak merasa bahwa keberhasilannya diukur hanya dari diterima atau tidaknya di jurusan tertentu, seperti Kedokteran, mereka bisa mengambil jalan pintas yang salah,” jelasnya.
Menurutnya, penting bagi orang tua dan sekolah untuk memberikan pemahaman bahwa kesuksesan bisa diraih melalui berbagai jalur, dan tidak semua orang harus menjadi dokter atau profesional di bidang populer lainnya.
Kesadaran Moral dan Solusi Jangka Panjang
Pendidikan karakter dan etika akademik menjadi kunci untuk menekan angka kecurangan. LTMPT juga mengimbau sekolah-sekolah untuk mengintegrasikan nilai-nilai kejujuran dan integritas dalam kurikulum persiapan UTBK.
“Anak-anak harus dibekali bukan hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga karakter kuat agar siap menghadapi persaingan dengan cara yang jujur dan terhormat,” tegas perwakilan Kementerian Pendidikan.
Kasus peserta UTBK yang menempelkan HP di dada demi masuk Fakultas Kedokteran menjadi pengingat keras bahwa sistem pendidikan tidak hanya soal angka dan peringkat, tetapi juga soal nilai dan moral. Semoga ke depan, peningkatan keamanan diimbangi dengan peningkatan kesadaran dari peserta dan lingkungan pendukung mereka, agar kompetisi akademik bisa berlangsung secara sehat dan adil.





